Minggu, 04 Januari 2026

author photo
bentar Dibaca

Tak ada yang bisa dia lakukan, selain menyesel. Keiko memegang surat di tangannya lalu menangis sesenggukan. Napasnya menjadi tak beraturan dan dadanya rasanya seperti terikat.


Dia menemukan surat itu, beberapa menit setelah membantu tim penyelamat membawa Yusa ke ambulans. Nyaris dia terlambat, nyaris Yusa lewat. Andai semenit saja dia menunda datang ke rumah adiknya, maka seluruh hidupnya akan dipenuhi rasa bersalah.


Dengan tangan gemetar, Keiko membacanya, selembar surat pendek yang sengaja ditulis Yusa setelah melawan depresi bertahun-tahun.


Yusa putus ada setelah lelah melewati pengobatan dan terapi yang tiada berujung. Surat itu ditulis dengan kasar dengan bolpoin yang ditekan serampangan hingga ada goresan yang melubangi kertas.


Kak Keiko, 
Rasanya malam ini aku mau mati. Dadaku sesak dan nyaris tidak bisa bernapas. Aku sudah muntah berkali-kali hari ini setiap kali makan. Mungkin mulutku benci makanan. Atau tubuhku menolak makanan. Entahlah. 
Aku capek merepotkanmu setiap kali kambuh. Aku sudah capek melukai lenganku, tapi terpaksa kulakukan karena hanya dengan begitu, aku bisa mengalihkan pikiran dan perasaan-perasaan buruk. 
Maafkan aku, ya. Terima kasih juga sudah merawatku selama ini. Aku punya tabungan di lemari, pakailah untuk pemakaman dan juga untukmu. Mudah-mudahan juga cukup untuk menambah biaya pernikahanmu. Aku sayang kamu, Kak Keiko.


Keiko meremas surat itu. Dia menyalakan mobil, mengikuti ambulans yang membawa adiknya ke rumah sakit. Dia berusaha menahan napasnya, berkonsentrasi menyetir. Dia harus selamat untuk menyelamatkan adiknya.


Di depan rumah sakit, dia memarkir mobil, lalu berlari ke ruang gawat darurat. Begitu sampai di UGD, dia mendengar suara adiknya yang histeris. Beberapa perawat mencoba mengikatnya dengan kain agar Yusa tidak berontak.

Keiko berjalan pelan di ranjang Yusa. Dia masih histeris. Keiko melihat salah seorang perawat memberikan suntikan di lengannya dan dia yakin itu obat penenang.

Keiko duduk di kursi di sisi ranjang. Dia melihat adiknya mulai lemas, tapi matanya masih terbuka. Air matanya masih menetes. Keiko melihat lilitan merah di lehernya. Hampir saja dia lewat. Beruntung dia tidak terlambat.

“Aku cuman mau mati, Kak. Aku capek,” katanya pelan.

“Aku tahu. Tidurlah. Jangan berpikir dulu.”

Beberapa menit kemudian, suara napas halus terdengar. Suara napas Yusa ritmis. Dia memegang tangan adiknya yang kurus, kuku-kukunya pucat.

“Tolong bantu Kakak agar bisa menolongmu,” Keiko mengatakan itu, lalu menangis terisak-isak. Dia nyaris kehilangan adiknya hari ini. Untung saja dia tidak terlambat.

This post have 0 comments


EmoticonEmoticon

This Is The Newest Post
Previous article Previous Post